Kamis, 14 Mei 2015

Biru Jingga - a Short Love Story

Nada Jingga memonyongkan bibirnya dan menghela nafas berat
Kembali dibukanya tray 5 dan menarik perlahan kertas yang terjebak di sana
Berkali - kali printer multifungsi itu ngadat
Pekerjaan cetak dokumen yang dikerjakannya selama 10 menit terakhir masih belum selesai juga
Setelah lampu indikator mesin berwarna hijau, ia mengusap lembut MFP itu, "C'mon be nice to me" dan dokumen yang ia cetak mulai keluar satu persatu ...

Perhatiannya teralih pada sesosok pria yang melintas di sampingnya
"Siapa ya," tanyanya dalam hati
Pria itu menghentikan langkahnya tak jauh dari Jingga
Jingga membalik tubuhnya
Dan pandangan mereka bertemu
Piipp .... piiippp ... piiipp
Suara MFP menandakan dokumen Jingga selesai dicetak
Mereka masih terpaku menatap satu sama lain tanpa berkata - kata
"Udah selesai mba nge-print-nya", staf yang mengantri menggunakan MFP di belakang Nada nampak putus asa
Jingga kembali turun ke bumi
"Ah ... sudah, silakan pakai, maaf lama"
Pria itu tersenyum simpul

Biru mendengarkan penjelasan pria yang ada di hadapannya
Pria yang akan ia gantikan posisinya
Ya, mulai bulan ini dia resmi pindah ke kantor cabang ini
Ini merupakan lompatan yang luar biasa bagi seorang Biru
Ia berharap banyak dengan cabang ini
Untuk karir dan kehidupannya
Ia serius menyimak semua permasalahan yang menjadi tugas yang harus ia selesaikan segera di awal
Tapi berkali - kali pikirannya terusik oleh wanita yang ia temui beberapa jam yang lalu

Kening Jingga berkerut demi melihat nominal rincian biaya yang mungkin ia keluarkan nanti
"Makasi ya, Dok, coba saya pikirkan lagi nanti, saya kabari dokter segera kalo saya sudah putuskan mau bagaimana," kata Jingga
"Tidak perlu terburu - buru, pastikan saja kamu siap, tidak hanya dari segi biayanya tapi juga kesiapan mentalmu"
Nada tersenyum datar dan mengambil tas tangannya. Ia keluar dari ruang praktek dokter bedah itu dan menatap wanita - wanita muda dengan wajah putus asa di ruang tunggu.
Pikirannya melayang ke pria yang ia temui tadi pagi di kantor

Dua minggu setelahnya,
Biru Langit menatap tempat itu
Sebuah boks 1.5 x 1.5 yang akan menjadi ruang kerjanya
Selama ....
Entahlah ....

Jantung Nada berdebar kencang ketika melangkahkan kakinya mendekati pria itu
Pria itu beranjak dari kursinya, seakan tahu Jingga akan menemuinya
Biru nampak salah tingkah
Jingga mengambil nafas dalam - dalam
"Biruuuu .... welcome to your new office" senyum lebar terbingkai di wajah Jingga
Senyum Jingga tulus, senyum bahagia, senyum penuh harapan, senyum dengan tag "I really interested to you, come and get closer to me"
"Jinggaaaa, masi penyesuaian ni" Biru tertawa lebar
Mereka saling berjabat tangan dan menatap satu sama lain
Jabatan selamat datang, jabat tangan lumrah sebagai rekan kerja, jabat tangan pertama yang bisa menggambarkan karakter seseorang
Jingga tersentak dengan jabatan tangan Biru
Begitu kuat, begitu mantap, begitu percaya diri
Jingga yang biasa mengejutkan pria dengan jabatan tangannya
Kali ini terkesima
Cukup lama mereka berjabat tangan, hingga Jingga merasa tangannya kesakitan, Jingga nyengir aneh
Ia tidak tahu bagaimana melepaskan jabatan tangan yang begitu erat dari seorang Biru
"Ehem ... uhuk uhuk " ... suara seorang staf Biru membuat mereka akhirnya melepaskan tangannya satu sama lain

Jingga menatap nominal saldo di rekening tabungannya
"Sedikit lagi," katanya pada dirinya sendiri

Drrrtttt .... handphone nya bergetar
Dia baca pesan LINE dari Biru, Aku jemput setengah jam lagi ya Jingga
Jingga menutup internet bankingnya, dia membalas Aye aye, Mr Blue
Ia beranjak ke kamar mandi
Sudah dua bulan Biru dan Jingga menjalin hubungan
Hubungan pertemanan yang dijalani dengan perasaan aneh yang ada di hati dan pikiran masing - masing
Sebuah kata yang tak terdefinisi
Bukan ... bukan cinta
Terlalu dini untuk mengucapkan kata sakral itu
Chemistry yang tak terjelaskan dengan reaksi asam basa maupun reaksi penggaraman sekalipun

Pim pim pim ...
Klakson mobil Biru terdengar di depan halaman kost Jingga
Nada keluar kamarnya, menuju balkon dan melambaikan tangannya pada Biru
Dari dalam mobil Biru mendongak ke atas, ia tersenyum, senyumnya yang khas a simple sophisticated unforgettable smile 
Nada memberikan isyarat dengan jari telunjuknya, Give me a minute, i'm going down asap
Ia kembali masuk ke kamarnya
Wangi parfum terbaru yang ia beli seminggu yang lalu tercium saat ia menutup pintu kamarnya
Perfect ...
Yap ... Jingga memastikan dirinya menggunakan parfum yang sama setiap dekat dengan seorang pria
Pria yang mendapat tempat di hatinya
Pria - pria ini selalu ia tandai dengan parfum baru dengan aroma yang ia sukai
Ada efek nostalgia yang akan kembali mengingatkan segalanya ketika hubungan itu berakhir
Dan sejauh yang Jingga ingat
Hanya ada 2 parfum sejauh ini
Artinya hanya ada 2 pria yang mampu membuatnya jatuh cinta
Meski pria yang keluar masuk dalam kehidupannya lebih dari angka itu

Biru merapikan tatanan rambutnya sembari menunggu Jingga masuk ke mobilnya
Ia mengajak Jingga keluar malam minggu ini
Doing some stuffs together
Dinner, watching movie, shop, and chat till late night at coffee shop
As friend ....
Not as a lover ....
Masih terlalu pagi untuk mengartikan gejolak yang ia rasakan pada Jingga sebagai cinta
Ia ingin memastikan segalanya dilakukan pada saat yang tepat
The perfect time ... is a must

Jingga masuk ke dalam mobil
Biru membawa Jingga  menuju mall terdekat
Setelah membeli tiket untuk jam pemutaran tercepat
Mereka mencari tempat untuk makan malam
Biru menarik kursi untuk Jingga
Jingga memasang wajah datar
Mereka memesan menu malam itu
Jingga seperti biasa nasi capcay dan teh tarik
Biru memesan chicken cordon bleu dan es teh tawar
Obrolan mengalir bagai air hujan yang turun deras malam itu
Mereka begitu cocok satu sama lain
Segala hal dapat menjadi topik menarik yang bisa dibahas oleh Biru dan Jingga

Malam itu hampir berakhir sempurna

Hingga saat mereka duduk dan saling bertatapan di coffee shop malam itu
"Tell me what your love story, Jingga" kata Biru
"What kind of story do you want to know" tanya Jingga 
"So you have many" tanya Biru
"I have ... and all of it just didn't work anyway"
"What do you mean?"
"If it works, aku ga jomblo sekarang, Biru"
"Oh .. I see"
"I don't want to talk about my past. I just hurt me over and over again"
"You have beautiful brown lonely eyes, Jingga. You must be suffering enough all this time"
Jingga tersenyum pahit
"I really want to help you , Jingga"
"Help me for what"
"Make you smile and your eyes shinning"
"How could you make it"
"Me and you together like this ... "
Biru menarik tangan Jingga ke dalam genggamannya
Jingga merasakan tangan Biru bergetar
"Let's we get out of here" kata Jingga

Sesampainya di dalam mobil
Mereka menatap satu sama lain
Menanti entah apa yang dinanti
Dan akhirnya it takes over
Mereka saling mendekatkan wajah masing - masing
They're kissing for the first time
So deep
So rough
So brave
Dinding keangkuhan mereka runtuh
Meski tanpa kata cinta terucap
Rasa yang tertahan sejak pertama kali mereka bertemu terlampiaskan
Rasa rindu tak terucap
Desiran rasa ingin memiliki yang beradu setiap mereka bertatapan
Luruh dalam derasnya hujan yang tak berhenti turun malam itu 

Biru mengantar Jingga pulang
Senyum bahagia terbingkai di wajah mereka
Sepanjang perjalanan Biru banyak bercerita
Jingga mendengarkan dengan seksama
Biru menceritakan kisah cinta masa lalunya
"Wanita terakhirku, aku ga tau apa bisa disebut kekasih atau tidak"
"Kenapa?" tanya Jingga
"Karena tak pernah ada kata cinta yang terucap dari mulut kami"
"How could it be?"
"Mungkin karena kami terlalu angkuh, sama - sama menanti"
"Trus akhirnya"
"Dia pergi meninggalkan aku, dengan alasan karena tidak ada kejelasan dalam hubungan kami"
"Kamu sendiri gimana sebenernya sama dia"
"Aku sayang sama dia, Jingga, tapi aku tak tahu apa itu cinta atau hanya sekedar rasa sayang" 
"Memang ada bedanya?'
"Ya ... tentu saja ada. Rasa sayangku sama dia tidak cukup untuk membuatku berani memintanya untuk jadi kekasihku"
"Lantas kenapa kamu ga nyatakan itu sama dia"
"Aku takut dia berubah"
"Jadi sampai saat ini kamu ga tau apakah dia mencintaimu atau tidak?"
"Begitulah ...."
Mereka terdiam
"Tapi aku sudah tidak terlalu memikirkannya Jingga. Aku pikir, mungkin dia memang bukan untukku"
"Kenapa kamu berpikir begitu"
"Terakhir aku bertemu dia. Dia menangis hebat. Dia cerita, kalo setelah kami berpisah, ia dekat dengan seorang pria. Dia bilang pria itu cinta dalam hidupnya"
"Kalo memang benar begitu, kenapa dia menangis?"
"Dia menyerahkan segalanya ke pria itu. Dan sekarang pria itu meninggalkannya"
"Kenapa?"
"Pria itu sudah beristri"

Mereka berdua terdiam lagi

"Apakah masalah terbesar buatmu adalah karena dia sudah tidak perawan?" tanya Jingga
"Begitulah"
"Bukankah kamu mencintainya?"
"Maaf, Jingga, memang aku mencintainya, tapi terkadang cinta tidaklah cukup"
"Kenapa? Bukankah cinta bisa menembus semua batas itu?"
"Tapi aku sebagai lelaki, sulit menerimanya Jingga, meski aku menginginkannya"
"Itu hanyalah raga, Biru, cinta itu lebih abadi dari sekedar seks"
"Tapi seharusnya dia mampu bersabar hingga waktunya tiba, Jingga"
"Siapa yang bisa tahu masa depan? Bukankah kita hidup di masa ini. Bukan masa lalu"
"Mengapa kamu begitu membelanya Jingga? Apakah kamu mau aku menerima dia dengan kondisinya saat ini?"
"Jika kamu memang mencintainya, jawabanku Iya. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Aku tidak membenarkan perbuatannya. Namun aku bisa paham jika dia melakukan itu atas nama cinta. Pastilah dia sudah sangat dalam pada pria itu"
"I wish my pride can take it"

Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Biru sampai di depan kost Jingga
Jingga menerawang jauh ke depan
Biru memperhatikan Jingga
Kembali mata Jingga meredup
Mata yang sempat berbinar ketika bibir dan tubuh mereka saling bersentuhan
Biru menyentuh dagu Jingga dan mengarahkannya ke hadapannya
"Jingga, aku ingin hidup di masa sekaarang, sama kamu ... kita berdua. Aku cin ..."
Jingga melekatkan jari telunjuknya ke bibir Biru
"Don't say it ... Just don't" bisik Jingga
"Kenapa? Aku hanya ingin kamu tahu bahwa sejak pertama kali kita bertemu aku jatuh cin ... "
Kembali Jingga menekan telunjuknya, menutup bibir Biru
Diciumnya dalam dan lembut bibir itu
Bibir yang melahirkan senyum yang ia kagumi
Bibir yang membuatnya melayang beberapa waktu lalu
Bibir yang selalu mampu membuatnya semangat menjalani hari - harinya yang berat
Bibir yang hampir membuatnya hampir percaya segalanya akan menjadi lebih indah
Jingga menatap mata Biru
"Akupun merasakan hal yang sama ...." dan air mata menetes di pipi Jingga, " ... tapi seperti yang kamu bilang, cinta tidak cukup bagimu. Thanks for everything Biru, Goodbye"
Jingga keluar dari mobil dan disambut oleh derasnya air hujan 
Meninggalkan Biru yang terdiam tanpa kata, matanya menatap kepergian Jingga

"Halo ... bisa bicara dengan Dr. Risang?" tanya Jingga
"Dr. Risang sedang operasi, Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Kalo begitu, tolong jadwalkan saya operasi untuk minggu depan, Suster" kata Jingga



Song : Glad You Come - Wanted
--- thenakedwanderer ---




Tidak ada komentar:

Posting Komentar